Postingan

Yang Manis-manis

Secara alami, lidah kita menyukai rasa manis. Manis mengirimkan sinyal adanya sumber energi cepat kepada otak. Itu sebabnya, otak kita tercipta untuk mendambanya. Hasrat terhadap rasa manis membuat manusia menciptakan pemanis-pemanis buatan. Akhirnya, manusia terbiasa mengonsumsi rasa manis, baik ketika tubuh membutuhkannya maupun tidak. Manis, yang seharusnya mengantar sinyal baik, justru dapat menjadi racun bagi tubuh.   Namun, kita masih meminjam rasa manis untuk membahas hal-hal yang kita sukai di luar pengalaman indera pengecap. Paras elok kita sebut manis. Kata-kata yang menyenangkan hati kita sebut manis. Pengalaman-pengalaman indah dan berkesan pun tinggal dalam ingatan sebagai pengalaman manis.     Di zine-zine-an online edisi 204, aku ingin membahas manis-manis yang tak kita kecap dengan lidah. Ada ucapan selamat ulang tahun disertai cerita manis yang merespons karya Ican, ada “Kamera Ria” dengan manis icing sugar yang melenakan, serta ada si manis Rani...

RUU TNI, Kamera Ria, dan Lapis Gula

Rani Shita Hapsari: Mengenai Keseimbangan, Pemulihan, dan Mawas Diri

Galat Bunga Mata Batin dan Ulang Tahun Ican